Ghoncheh Ghavami, wanita cantik berusia 25 tahun dipenjara karena menonton pertandingan bola voli pria. Dalam aturan negara tersebut, perempuan dilarang mengunjungi kegiatan massal yang memungkinkan bercampurnya pria dan wanita. Kini Ghavami yang seorang lulusan hukum harus meringkuk di penjara selama setahun.
Iran bukan sekali ini melarang perempuan menonton langsung pertandingan olahraga. Sebelumnya, para wanita dilarang menyaksikan laga sepakbola di stadion. Otoritas Iran menyatakan aturan tersebut terlahir untuk menjamin perlindungan terhadap wanita dari perilaku tidak pantas yang mungkin dilakukan para penggemaar pria.
Terkait penahanan Ghoncheh Ghavami, Kantor Kementerian Luar Negeri Iran sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Dikutip BBC, mereka mengaku, “prihatin atas tuntutan, proses hukum selama persidangan, dan perlakuan terhadap Ghavami selama dalam tahanan.”
Kejadian yang menimpa Ghavami terjadi pada 20 Juni lalu. Ia termasuk dalam sekelompok wanita yang memaksa masuk dalam pertandingan voli internasional antara Iran melawan Italia. Sejumlah wanita ditangkap, dan diduga dipukuli sebelum dibebaskan. Akan halnya Ghavami yang diangap menyebarkan propaganda anti penguasa Iran, kembali ditahan.
Akibat penahanan ini muncul reaksi dari Amnesti Internasional. Ada rilisan petisi online yang ditandatangani lebih dari 700 ribu orang agar Iran membebaskan Ghoncheh Ghavami. Masyarakat Inggris sendiri terbelah menjadi dua terkait penahanan perempuan cantik ini.
Banyak yang mengkritik kebijakan penguasa Iran yang seperti menghalangi akses wanita di ruang publik, namun tak sedikit pula yang menyebutkan pentingnya semua orang mematuhi hukum di tempat ia tinggal. Dalam hal ini, Ghavami yang seorang lulusan hukum mendapatkan sorotan atas tindakannya melanggar hukum.






0 comments:
Post a Comment